Aku Selalu Mengawasimu

Aku Selalu Mengawasimu

......................................................... 4 dari 5 cobaan hidup yang tertuliskan dengan rapi di atas kertas itu aku sudah menyelesaikannya. 3 detik setelah ku tuliskan kata-kata terakhir hasil pikiran otakku sang pengawas datang dan mulai menariki semua kertas penentu keberhasilan tepat di depan kami semua. Bak seorang Raffles yang menariki upeti dari rakyat Indonesia sebagai masyarakat koloninya. Cepat, tepat dan tanpa banyak bicara. Aku sendiri cukup berdebar ketika “Sang Deandles” tiba di tempatku duduk. Meski aku tidak menyerahkan upeti secara penuh, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membungkam mulut Deandles agar tidak memakiku.
5 detik, pasca penarikan upeti wajib itu aku segera membereskan tas ku dan mulai melangkah meninggalkan ruangan ulangan itu. Ah rasanya seperti keluar dari tempat koloni itu. Aku cepat-cepat menuruni anak tangga itu dan seseorang sedang berdiri di hadapanku. Ia memandangiku dengan kedua matanya, namun arloji hitam di tangannya pun tak luput dari perhatiannya, “Lama sekali, sudah selasai?” tanyanya, sementara aku masih terengah-engah dan belum aku belum bisa sama sekali fokus diri untuk bisa menjawabnya, “Stoikiometri, apakah kau tahu, 4 soal sudah aku kerjakan, dan tertinggal satu. Kau tahu kan aku tak sepintar dirimu?” aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan kembali.
Senyuman tulus keluar dari wajahnya, kawanku ini memang jarang sekali bicara. Namun melihat dari senyumannya aku yakin benar, itu merupakan pujian buatku, tulus sekali. Kau bisa merasakannya kawan.
Saat itu aku masih saja terengah-engah saja. Tas cangklongan 2 ku pun masih belum aku tutup reseletingnya, menganga dengan jelas. Sementara itu dasi abu-abuku masih berantakan. “Gak usah buru-buru! Ceroboh! Tas mu terbuka dan lihat pakaianmu!” nadanya yang keras dan kasar menghentikan respirasi pernapasan berlebihan di tubuhku. Ingin aku sekali marah, namun 0,5 detik kemudian dia membetulkan tas ku dan dasi yang kukenakan, seraya berkata “Jangan aneh-aneh, aku selalu mengawasimu, kau tahu itu kan?” bentaknya.
Tulus sekali kawan, kalimat terakhirnya penuh dengan makna tersirat dengan sejuta arti. Namun yang aku tahu pasti, tulus dari hatinya.


===================END======================================

0 Response to "Aku Selalu Mengawasimu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel